Kamis, 15 Mei 2014

Sekolah sebagai Komunitas Belajar

“Satu kata yang terpenting adalah, Change! Dua kata terindah di hati manusia, Terima Kasih. Tiga kata yang menghimpit di hati, Negeriku Sulit Berubah. Empat kata yang membunuh, Negeriku Tidak Bisa Berubah. Lima kata yang memanggil, Negeriku Butuh Aku untuk Berubah. Banyak kata yang perlu diwaspadai, … Mereka yang Berubah-ubah Terus dan Mereka yang Tak Mau Berubah Sama Sekali”
--Rheinald Kasali--
Sebuah sistem pendidikan yang sehat dan unggul selalu berusaha memahami perkembangan zaman dan memenuhi tuntutan-tuntutannya. Konsekuensinya, ada semangat perubahan yang diusung untuk menatap masa depan yang semakin tak terprediksi dan penuh tantangan. Sejatinya, sistem pendidikan perlu mengambil inisiatif untuk melakukan transformasi dan reformasi pendidikan.
Meminjam istilah pakar pendidikan, Mochtar Buchori, “reformasi pendidikan” adalah perubahan-perubahan yang perlu dilakukan dalam sekolah kita tanpa mengubah fondasi dan struktur dari sistem yang ada sekarang ini. Sedangkan “transformasi pendidikan” adalah perubahan-perubahan yang lebih mendasar dan mendalam dalam sistem pendidikan kita, perubahan-perubahan yang menyentuh sendi-sendi (foundations), struktur, dan modus-modus operasi di sekolah-sekolah kita.
Perubahan-perubahan seperti ini mengubah wajah dan watak sekolah kita. Transformasi dari sistem pendidikan kita memerlukan waktu yang lama, dan akan merupakan akibat kumulatif dari langkah-langkah reformasi yang kita lakukan terhadap sekolah-sekolah kita.
“Apa yang dapat generasi kita lakukan untuk menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih unggul di masa depan?” Pertanyaan inilah hakikatnya yang harus dapat dijawab oleh sistem pendidikan kita dewasa ini.
Membangun komunitas belajar di kalangan praktisi pendidikan merupakan salah satu jawaban. Langkah pertama yang cukup strategis adalah mengembangkan komunitas belajar produktif di kalangan pendidik. Komunitas belajar inilah yang akan mendorong keniscayaan terjadinya sebuah perubahan-perubahan yang mengedepankan relevansi dengan tuntutan perkembangan terkini. Dengan mengokohkan semangat meningkatkan kualitas pembelajaran, meningkatkan kualitas personal dan profesional pendidik, maka diharapkan hal ini dapat berdampak besar terhadap pencapaian pengembangan sumber daya manusia masa depan yang lebih unggul.
Pertanyaannya, “Mengapa harus membangun sebuah komunitas belajar untuk mendorong suatu perubahan?”
Pertama, keterampilan hidup utama yang harus dimiliki dalam mengarungi kompetisi di abad 21 di antaranya adalah pemecahan masalah (problem solving) dan kerjasama (teamwork). Sistem sekolah idealnya mampu mewujudkan hadirnya pribadi-pribadi unggul pada diri siswa, pendidik, dan stakeholders yang terlibat di dalam komunitas sekolah tersebut secara menyeluruh. Keunggulan ini akan berdampak luar biasa jika dibangun di atas landasan keterbukaan terhadap pengalaman hidup, keterbukaan hati dan telinga, keterbukaan diri terhadap orang lain, keterbukaan terhadap kesepakatan (tidak mudah memilih konflik), dan keterbukaan terhadap tekanan-tekanan hidup (Costa & McRae, dalam Rheinald Kasali, 2007).
Kedua, ilmu pengetahuan hanya akan berkembang jika mengalami proses sinergi (pertukaran pengetahuan melalui diskusi) dalam sebuah komunitas. Setiap individu memiliki explicit knowledge yang bersifat subjektif dan individu. Ketika masing-masing individu melakukan sharing pengetahuan dalam komunitas, maka di sana akan terjadi proses saling memberi dan menerima ilmu, sehingga kepemilikan pengetahuan akan mengalami pergeseran dan setiap individu memiliki tacit knowledge yang lebih bersifat objektif dan memungkinkan memunculkan pengembangan ilmu baru. Praktisnya, ilmu menjadi semakin berkembang luas. Prinsipnya, learning is sharing, proses saling belajar bisa dilakukan lewat aktivitas berbagi gagasan & pengalaman hidup tentang banyak hal yang bermanfaat.
Ketiga, dalam sebuah analisisnya, Rheinald Kasali pernah menyatakan bahwa interaksi perilaku akan menghasilkan mutasi nilai-nilai dan pandangan-pandangan yang akhirnya membentuk belief dan personality. Lingkungan bisa memberikan pengaruh terhadap cara berpikir & berperilaku kita. Jadi, ketika kita bergabung dalam komunitas sekolah yang mencirikan etos kerja hebat, melayani stakeholders dengan hati, dan bersikap profesional, maka besar harapan akan terjadi individu-individu dalam komunitas sekolah tersebut yang memegang dan melaksanakan pelayanan publik prima.
Banyak kepala lebih baik daripada satu kepala, ibarat jika kita ingin mengambil keputusan hebat melalui musyawarah. Begitu pun jika ingin membangun bangsa ini menjadi lebih baik. Perlu orang-orang hebat yang mengabdikan dirinya bagi pendidikan bangsa, bukan menjadikan pendidikan sebagai mata pencaharian sampingan. Kepala sekolah, guru, siswa, dan elemen pendidikan lainnya harus berusaha bertransformasi membangun kualitas diri.
Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Tidak ada sekat semu antara kepala sekolah dan guru. Bagi kepala sekolah, “Learning to lead and leading to learn”. Begitu pun bagi seorang guru, “Learning to teach and teaching to learn”. Perubahan harus diawali di lingkungan sekolah, kepala sekolah harus menjadi pemimpin efektif dalam mengawal manajemen perubahan, dan guru menghadirkan dirinya sebagai sosok inspiratif. Perubahan adalah akibat dari sebuah proses belajar yang sungguh-sungguh. Maka, ketika sistem sekolah kita tidak pernah berubah menjadi lebih baik, maka tanyakan kepada seluruh elemen sekolah, “Apakah Anda sudah benar-benar belajar?”

Asep Sapa'at Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa
sumber: http://id.berita.yahoo.com/sekolah-sebagai-komunitas-belajar-025414814.html;

SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK DUNIA

OBROLAN AYAH DENGAN CHANTALL SEPUTAR TAWURAN PELAJAR DAN SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA

DIMANA LETAK PERBEDAANNYA ?????

Tadi malam setelah kami selesai siaran di Sindo TV, sempat berbincang2 dengan Chantall Della Concetta, presenter acara tsb melanjutkan obrolan kita
....

Saya bercerita tentang sistem pendidikan di FINLANDIA pada Chantall, yang diakui menerapkan sistem Pendidikan (Sekolah) terbaik di dunia.

Tiba2 saja Chantall menimpali, katanya dulu ia semasa masih di Metro TV pernah dikirim meliput di Finlandia,

"Wah ayah...katanya..., penduduknya luar biasa.... santun ramah, dan yg menakjubkan katanya jika kita parkir mobil dimana saja tidak perlu di kunci, dan jika ada benda2 berharga bisa ditinggal di mobil tanpa perlu khawatir ada yg mencurinya...." Begitu katanya....

Jadi ternyata SISTEM PENDIDIKAN itu yg menentukan potret sebuah bangsa, jadi jika potret bangsanya Amburadul seperti ini, pasti sistem Pendidikan dan para penyelenggaranya juga amburadul

Begitulah kira-kira kesimpulan dari obrolan kami malam itu di Studio Sindo TV.

Lalu seperti apa sich SISTEM PENDIDIKAN TERBAIK DI DUNIA ITU ???

Berikut penuturan dari Syed Abdul Rahman Alsagoff
Foundar Arabic School in Singapore
Sekolah tertua yg didirikan oleh Swasta di Singapura; Sumber; Channel News Asia , 6 Mei 2009

Mengatakan bahwa ternyata di Finlandia itu tidak ada:

1. Akreditasi (Pemeringkatan) sekolah oleh pemerintah, yg ada akreditasi oleh Masyarakat; Jadi masyarakat melihat langsung apakah anak mereka yg didik di sekolah tersebut menjadi semakin baik, beretika dan cerdas atau malah sebaliknya. Jadi sekolah tidak dinilai oleh satu pihak saja, yakni Pemerintah, melalui Stnadar tunggal yg bisa saja keliru (dan jika keliru maka seluruh bangsa akan menganggung akibatnya) ; melainkan langsung oleh usernya yakni masyarakat. Jadi sekolah berusaha untuk menjadi yg terbaik dengan memberikan bukti langsung kepada masyarakat yg menilainya. Fungsi pemerintah lebih sebagai konselor atau Konsultan Pembimbing bagi sekolah dan mengembangkan sistem sekolahnya bukan Lembaga Akreditasi. Mencatat sekolah2 yg dianggap berhasil oleh masyarakat dan membantu sekolah2 yg belum dianggap berhasil.

2. Tidak ada kurikulum tunggal yg ditetapkan oleh Pemerintah pusat, Setiap sekolah diberikan kebebasan mengembangkan kurikulum sendiri sesuai dengan potensi unggul daerahnya masing2. Jadi sepertinya jika sekolah itu di terletak di Bali mungkin yg lebih di utamakan adalah kurikulum pengembangan Budaya, Seni Tari, Ukir, Pahat dan sejnisnya. Jika dikalimantan mungkin tentang Batuan berharga, Gambut, Batubara, dan Budidaya Hutan, Jika di Maluku mungkin Perikanan dan budidaya kelautan dan sejenisnya. Wow !!! Pastinya akan banyak para ahli lokal yg pandai memanfaatkan potensi daerahnya.

3. Tidak ada standar ujian negara, melain berbasiskan pada proses hasil pembelajaran dari hari ke hari dari masing-masing anak, tanpa dibandingkan melalui sistem Rangking. Jadi tujuan pembelajaran adalah untuk menjadikan anak yg terbaik sesuai bidang yg diminati dan kemampuannya sendiri-sendiri bukan untuk mengejar peringkat dalam satu kelas atau satu sekolah. (karena prinsip pendidikan adalah mencerdaskan semua anak bukan untuk Merangking mereka dari yg terpintar hingga yg terbodoh)

4. Dan yg paling mengesankan adalah tidak ada standar Nasional KECUKUPAN MINIMAL untuk Nilai masing2 pelajaran (karena tiap anak memiliki kecepatan belajar yg berbeda2 dan kemampuan berbeda untuk bidang pelajaran yg berbeda).

Yang ada justru STANDAR NASIONAL ETIKA MORAL ANAK. Jadi setiap sekolah wajib mendidik setiap murid mereka memenuhi STANDAR ETIKA MORAL NASIONAL sebagai Pondasi Dasar membantuk Bangsa Yang Kuat dan Cerdas.

Jadi meskipun sekolah mereka memiliki kurikulum yg berbeda2 dengan spesialisasi kecakapan Bidang yg berbeda di sesuaikan dengan potensi daerahnya masing2 Namun setiap sekolah harus bisa menjamin bahwa setiap muridnya memiliki ETIKA MORAL YG STANDAR SECARA NASIONAL.

Wah.... sepertinya kok tidak terlalu sulit ya untuk mengikuti dan menjadi Negara dengan Sistem Pendidikan Terbaik di Dunia. Tentunya jika kita mau !!

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air,

Seandainya anak kita bersekolah dengan sistem seperti ini sudah kebayang ya akan menjadi sangat luar biasa !!!.

Bersekolah akan menjadi hal yg menarik, menyenangkan sekaligus menantang dan tidak lagi membosankan dan menekan kejiwaan anak.

Dengan adanya Etika Moral yg di Standardisasi secara Nasional pastinya tidak akan ada lagi TAWURAN MASAL PELAJAR, Genk Nero, Genk Motor, dan sejenisnya di Jalanan. Anak akan menjadi respect pada guru dan orang tua, lebih beretika di sekolah, di jalan dan dirumah.

Dengan adanya sistem yg mengedepankan kecakapan individual dan tidak ada lagi sistem ujian dengan standar soal dan jawaban yg sama pastinya tidak akan ada lagi contek mencontek.

Tiap siswa akan tampil menjadi terbaik pada bidang kecakapan masing-masing yg memang menjadi bakat dan kelebihannya dan bukan dipacu dan ditekan untuk meningkatkan nilai atau bidang yg menjadi kelemahanya dengan cara ikut Bimbll atau Les siang, malam, pagi, sore.

Sekaligus masing2 anak-anak, Guru dan Orang Tuanya gak Stress lagi oleh Momok Nasional yg bernama Ujian Nasional, karena mereka di nilai bukan dari Ujian Akhir melainkan melalui proses perkembangan belajar dan penguasaan dari hari ke hari, sekaligus mereka juga dikembangkan berdasarkan kemampuan dan kecakapan bidang masing-masing, tidak untuk di Rangking, yg bisa berakibat sangat memalukan jika mereka termasuk 10 besar dari bawah.

Berkaca pada Syed Abdul Rahman Alsagoff sang Founder Arabic School di Singapore yg mau dan bisa melakukan perubahan dengan memulainya dari dirisendiri dan sekolahnya sendiri, kitapun mestinya bisa melakukan hal yg sama di Indonesia.

Jika Singapura bisa Indonesia Pasti Bisa !!!

Jika kita mau pasti bisa !!! dan bukan sebaliknya, Jika bisa sich sebenarnya kita mau !!!!

Ya Persis memulai perubahan mulai dari diri sendiri dan sekolah kita sendiri !!!
sumber: http://www.facebook.com/pages/Komunitas-AYAH-EDY/141694892568287

Bisakah Sekolah Menciptakan Manusia Kreatif?

Jika diminta membayangkan contoh manusia kreatif, siapa yang ada dalam bayangan anda? Newton dengan tragedi buah apelnya? Einstein dengan popularitas relativitasnya? Archimedes dengan teriakan Eureka tanpa busananya? Anak-anak SMK dengan berbagai produknya? Atau  barisan pemuda yang kemarin meramaikan pemilukada DKI? Terserah siapa dan yang mana yang akan kita sebut dan kita golongkan sebagai manusia kreatif.
Kreativitas adalah seni penemuan. Kemampuan seseorang untuk menciptakan hal-hal yang baru bagi dunia berdasar pada inovasi. Kreativitas adalah seni keberanian. Kemampuan seseorang untuk melihat secara berbeda dari kebanyakan orang. Menyimpulkan secara tidak biasa. Keluar dari keumuman. Siapa yang bakal menyangka bak mandi penuh air adalah tempat munculnya hukum Archimedes?

creative
Seorang penulis pernah menyebut karakteristik manusia kreatif sebagaimana berikut;
1.    Tidak biasa. Manusia kreatif tidak terikat dengan kebiasaan dan norma keumuman yang berlaku. Mereka hanya percaya pada apa yang mereka yakini benar. Lihat saja betapa beraninya Galileo mengeluarkan pendapat bahwa bumi mengitari matahari. Satu pendapat yang menabrak kepercayaan kala itu.
2.    Individualistik. Manusia kreatif tidak mempercayai sesuatu yang bersifat takhayul. Mereka akan selalu berusaha mencari kebenaran dengan cara mereka sendiri.
3.    Inventif. Manusia kreatif penuh dengan daya cipta dalam balutan inovasi-inovasi. Mereka selalu berusaha mencari apa yang hilang didunia dan apa yang bisa dilakukan untuk kehidupan yang lebih baik.
4.    Terdorong. Manusia kreatif memiliki dorongan visi yang kuat dan memiliki keinginan untuk mengubah visi tersebut menjadi penemuan yang luar biasa melalui sebuah tindakan.
5.    Visioner. Manusia kreatif adalah manusia yang visioner. Visi mereka terletak pada hati dan jiwa mereka. Prioriotas utama hidup mereka adalah untuk mengejar visi itu.
6.    Intuitif. Manusia kreatif sangat intuitif. Pekerjaan yang mereka lakukan berasal dari jiwa mereka. Mereka mendengarkan jiwa mereka dan menjadikannya sebagai pembimbing dalam kehidupan mereka.
Nah..pertanyaannya sekarang, apakah lembaga sekolah kita bisa menciptakan manusia-manusia kreatif?
Oke, kita mulai pertanyaan ini dengan pertanyaan yang lain lagi, kenapa tanggungjawab ini diberikan kepada lembaga sekolah?
Jawabannya, mayoritas anak-anak kita menghabiskan masa-masa kecilnya di sekolah, mulai dari setingkat PAUD sampai dengan SMA atau bahkan bangku kuliah. Artinya, lembaga sekolah inilah yang sedikit banyak akan membentuk pemikiran mereka untuk mengarungi kehidupan yang lebih jauh lagi, yaitu terjun dalam kehidupan yang lebih nyata, dalam profesi apapun nantinya.
Kembali lagi ke pertanyaan semula, bisakah sekolah menciptakan manusia-manusia kreatif? Jawabnya, harus mampu. Setidaknya menjadi inisiator kemunculan manusia-manusia kreatif Indonesia. harapan kea rah itu sudah mulai terlihat. Kita telah menyaksikan kemunculan-kemunculan berbagai karya luar biasa dari anak-anak sekolah kita. Inovasi-inovasi spektakular hal pemikiran-pemikiran brilian. Tak perlu jauh-jauh melihat ke bangku kuliah. Siswa-siswa setingkat SMK pun sudah mampu menciptakannya.
creative
Pada dasarnya menjadi inisiator kemunculan manusia kreatif tidaklah begitu sulit. Lembaga sekolah kita cukup menghilangkan kekakuan proses pembelajaran dengan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk mengeksplorasi semua potensi mereka. Keragaman potensi ini adalah modal pertama yang harus dijaga dan dikembangkan. Selanjutnya, menjadi fasilitator dan apresiator. Lembaga sekolah harus mampu memfasilitasi ide-ide siswa, baik yang biasa, tidak biasa, unik, aneh, atau yang wajar saja. Semua harus terfasilitasi secara seimbang dan adil bukan malah dengan membunuh yang satu dan  menghidupkan yang satunya lagi. Lalu, memberikan apresiasi terhadap semua hal yang telah dilakukan siswa. Apresiasi ini menjadi sangat penting karena bisa menjadi pemicu semangat untuk kemunculan-kemunculan ide-ide baru lainnya. Kekurangan disana-sini adalah satu kewajaran yang tak perlu untuk dicemooh atau dihujat. Tak ada sesuatu yang langsung sempurna pada fase pertama. Evaluasi berupa kritik dan saran memang patut diberikan sebagai wujud apresiasi. Hanya, perlu disampaikan dengan cara-cara yang tepat sehingga tidak menekan dan malah membunuh kreativitas itu sendiri.
Masalahnya, seberapa banyak lembaga sekolah kita yang mampu menghilangkan kekakuan dalam proses pembelajaran? Menjadi fasilitator and apresiator?
Jika tidak banyak, maka bisa jadi hanya siswa dari sekolah yang itu-itu saja yang akan kita saksikan kreativitasnya. Sementara, siswa dari lembaga lain masih terpendam dalam lubang kekakuan.
Tentunya di masa-masa yang akan datang kita berharap semakin banyak manusia kreatif yang muncul dari lembaga-lembaga sekolah kita, yang tidak hanya mampu mencipta produk berupa barang, namun juga ide-ide spektakuler, sehingga semakin bertaburanlah pemikir-pemikir brilian dan problem-solver handal di negara tercinta ini. Pastinya, kita tidak ingin melihat lembaga-lembaga sekolah kita hanya menciptakan manusia yang “kreatif” dalam mencontek, tawuran, atau membullying sesama temannya. Semoga.

sumber; http://mutiarabirusamudra.blogdetik.com/bisakah-sekolah-menciptakan-manusia-kreatif/?query-string